Cita-citaku sangatlah biasa..kuingin menjadi LILIN..layak kah aku,Tuhan..?




Rabu, 23 Maret 2011

Mau dibawa kemana...

Lulus SMU atau bahkan sebelum lulus pun hal ini pasti sudah dipikirkan oleh anak2 kita termasuk ortunya. Apalagi kalau bukan nyari PTN atau PTS supaya sang anak bisa kuliah, lha tapi itupun kalau ada biayanya biarpun mesti kredit bank. Tapi critanya sekarang diasumsikan biaya kuliah anak sudah tersedia ..bim salabim..mak cring!!
Dipilihlah jurusan atau fakultas yang diminati anak,yang tentunya pasti diincar sejak awal dia mengenal yang namanya cita-cita. Alkisah anak kita belajar keras, pontang-panting fotocopy diktat dan tugas-tugas,browsing internet yang belakangan ini menjadi hal wajib untuk memperluas atau mengeksplorasi mata kuliah yang bersangkutan. Terkadang malah wayangan, biaya kopi jadi membengkak (simbokne mumet ngatur keuangan dapur), kamar berantakan mirip gledheg pasar mBringharjo kalau pas buka dasaran. Tak ketinggalan pula ortunya, puasa senin kamis, doa yang panjang lebih mirip pidato nota keuangan pemerintah padahal wis dikandhani kalau Gusti Allah lebih suka doa yang singkat,padat dan jelas. Bahkan terkadang agak lebay..pas saat ujian berlangsung,ortu cari srana ke wong pinter dengan tujuan ujian anaknya sukses..wee lha..jaman internet koq ya masih percaya tahayul.
Tiba di tugas akhir , yang namanya skripsi terkadang anak direwangi ngubeg-ubeg pasar shoping untuk cari contoh skripsi yang sudah jadi. Nah,yang kayak begini ini nantinya njur mau jadi sarjana mental wajik ketan, lha koq wajik ketan? lha embuh, wong saya lagi kepikiran wajik ketan je. Entah siapa yang salah, calon sarjana sepertinya alergi dengan namanya skripsi, mungkin pemerintah perlu kaji ulang untuk mengganti skripsi dengan hal lain yang lebih bisa membuat para calon sarjana ini lebih bisa menggunakan isi kepala mereka sendiri untuk menerapkan segala ilmu yang pernah mereka terima.
Saat yang menjadi ujung perjuangan adalah ditetapkannya sebagai sarjana dalam acara wisudanan. Air mata bahagia dan haru pasti tumpah, segala pujian dan sanjungan terlontar dari keluarga dan sanak kadang, baju toga dan kebaya atau jas sudah disiapkan, ndadak njahitin ke tailor sebelah, nggo sak gebyaran pas wisudanan.
Tradisi poto2an tidak ketinggalan,diapit kedua ortu, sanak saudara yang jauh pun kadang juga dipaksakan datang, hanya untuk menyaksikan sarjana yang baru lahir. Seusai itu, potonya digedein dan dipajang di ruang tamu supaya semua yang datang bisa langsung melihat dan otomatis tho langsung muji ngalor ngidul. Sang ortu biasanya langsung cerita secara heroik bagaimana mereka mendidik dan mengarahkan anak mereka supaya bisa jadi sarjana, sinambi hidungnya kembang kempis..
Bagian ini merupakan bagian nggak enaknya bila ortu punya anak mantan wisudawan ..kenapa yo mantan? lha iyalah..masa ya iya dong..duren aja dibelah,bukan dibedhong...he he he, secara bahwa wisudawan hanya sehari itu saja ,abis itu yaa mantan deh.
Gimana enak, kalau ternyata mantan wisudawan itu segera akan memasuki dunia pengangguran, ngempit ijasah ngalor ngidul nyari kerjaan persis kayak salesman/girl yang door to door nawarin produk. Dan sudah berapa saldo manusia seperti itu, dan berapa tercetak saban tahunnya, pernahkan panjengan sesami menggalihaken? Lha bandingkan dengan peluh , air mata, gulo kopi, kredit bank yang jatuh temponya setia menunggu uang kita masuk untuk cicilannya, atau jas / kebaya untuk seremonialnya..sebanding nopo mboten?
Kalau begitu,apakah anak kita tidak usah kuliah? Apa akan lebih baik kalau anak kita tidak kuliah atau adakah opsi lain? Luar biasa, hidup sudah sulit tambah makin kejeblos. Tidak kuliah tidak lebih baik daripada kuliah , namun jika kuliahpun tidak akan lebih beruntung atau mudah nyari pekerjaan kelak setelah lulus sarjana. Ini pe-er bagi kita, terlebih jika anaknya masih kecil, jangan anggap ini perkara mudah jadi gak perlu digalih saat ini, panjenengan salah besar kalau seperti ini. Siapkan dan rembuglah secara demokrasi dengan anak dan keluarga, setelah itu arahkan anak mulai sekarang namun jangan otoriter, cukup pemerintah saja yang otoriter.
Pilihan yang bisa diambil, itupun kalau sistem gak berubah lho ya..kuliah di sekolah yang punya ikatan dinas,dijamin dia akan kerja di instansi tsb. Atau cipatakan jiwa enterpreneur sejak dini, seperti anak saya yang kreatip jualan sepeda low-ridernya, gitar yang sudah dibosenin, kaos sablonan, aksesoris yang lagi ngetrend dll.
Anda ortu yang demokratif? anda peduli dengan masa depan anak anda? Semua harus diwujudkan dengan hal nyata, bukan cuman di mulut saja karena mulut fungsinya untuk nyewel wajik ketan..monggo. 

Dhora "AB" Mediana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda tercipta dari hati anda, maka secara otomatis anda juga telah memberi ruang untuk hati anda